Biarkan gelap memangsamu dan melemparmu ke alam lain
SORE yang muncul terlalu malam
Tuhan lebih tahu mana yang terbaik
Tidak semua hal harus kau ceritakan pada orang lain.
Ada kalanya ceritamu harus kau simpan dalam pikiranmu sendiri.
Selama ini kau telah terlalu banyak bercerita.
Sudah saatnya topeng itu kau lepaskan dan segera menjadi dirimu yang dulu.
Dirimu yang orang-orang bilang bersifat introvert.
Kembalilah menjadi dirimu yang seperti itu.
Mungkin semuanya akan menjadi lebih baik dan hatimu lebih tenang.
Potret
Ketika laki-laki itu menyebutkan namanya, pikiranku seketika berlari mendapati sebuah foto lama yang terpajang di dinding rumah ini.
Foto yang selalu diamati teman-temanku setiap kali mereka berkunjung dan membuat mereka terkagum-kagum.
Mungkin laki-laki ini adalah orang yang sama dengan laki-laki di foto itu.
Pikiranku kemudian membanding-bandingkan wajah mereka.
Aku menemukan ada kemiripan di sana.
Mungkin foto itu diambil beberapa belas atau mungkin berpuluh tahun silam, terlihat dari banyaknya perubahan yang terjadi.
Memang waktu dapat merubah apa pun.
Bandung, 16 Mei 2013
Rindu damaimu Suryakencana!
“Teteh, hujaaan!” seorang bapak berteriak diikuti tatapan bapak-bapak lain di sekitarnya. Saya hanya tersenyum sambil terus berjalan santai. Hujan.. Ya, saya tahu ini hujan, saya tidak akan mungkin lupa dengan tetes-tetes bening ini. Saya suka hujan dan sangat suka berjalan di bawah hujan. Berjalan perlahan menikmati setiap bulir yang menetes menembus kulit. Dingin, semakin dingin, dan perlahan menyegarkan. Nyanyian hujan terkadang menjadi penghantar imajinasi, menari-nari dengan logika-logika yang akhirnya menjadi bias, yang akhirnya menjadi semu dan hanya berakhir menjadi tanda tanya. Berjalan selangkah demi selangkah dan perlahan menghindari lobang-lobang jalanan rusak. Berjalan di antara dedaunan kering yang berguguran tertiup angin, dan masih berjalan di bawah hujan, di bawah jarum-jarum bening yang kian ganas menikam perut bumi..
Jingga telah menjelma menjadi hitam
Bulir-bulir bening masih menetes dari langit
Perlahan menguap, berpacu dengan angin yg menjadi dingin
Pintu-pintu kamar masih terkunci
Menunggu sang tuan untuk kembali
Berharap ada yang pulang
Hangatkan ruang yang kian dingin
Meski hanya dengan sorot lampu pijar tua yg hampir mati
Bahagia itu sederhana. Cukup dengan melangkah gontai menapaki pedestrian yang memadai di sore yang sejuk seperti ini. Mengamati beragam ekspresi orang2 dari arah berlawanan. Menapaki paving block dengan perlahan, menghindari pecahan tanah liat bekas galian. Tersenyum melihat tatapan orang2 yang heran, karena mungkin sudah jarang ditemukan pejalan kaki di kota yang sudah menuju metropolitan ini. Hmmm, Bandung masih cukup sejuk di kulitku.
Sepertiga malam yang masih sama
Waktu menukik turun dengan melata
Terseok-seok meresapi dingin
Bersembunyi di balik mantel bulu manusia-manusia normal yang tengah menikmati liburan alam bawah sadarnya

